Indonesia Melakukan Lokakarya Trilateral Pertama Tentang LNG

Natuna memiliki cadangan gas terbukti terbesar 46,96 TSCF, sementara cadangan terbukti di Jawa Barat mencapai 2,89 TSCF, dan 2,98 TSCF di Jawa Timur. Cadangan gas terbukti telah mencapai 5,41 TSCF dan 1,78 TSCF di Kalimantan dan Sulawesi masing-masing, sementara Maluku dan Papua masing-masing memiliki 11,93 TSCF dan 14,33 TSCF cadangan gas. Indonesia telah mempelajari kemungkinan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang untuk mengeksplorasi bisnis LNG dalam upaya mendukung ketahanan energi di ketiga negara.

Forum pertemuan trilateral menawarkan beberapa kemungkinan, termasuk pengembangan teknologi dan ekspor-impor LNG, kepala Satuan Tugas Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto mencatat.

Soetjipto menguraikan bahwa untuk pengembangan LNG, Indonesia telah memfokuskan terutama pada tiga bidang utama, yang pertama adalah mengembangkan sumber daya alam yang ada dengan meningkatkan eksplorasi; kedua adalah meningkatkan pasokan LNG dengan meningkatkan infrastrukturnya, dan ketiga, meningkatkan manajemen ekonomi berbasis LNG untuk menarik investor.

Sementara itu, perwakilan dari Kedutaan Besar AS Heather Variava mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki cadangan gas yang sangat besar dan kemampuan untuk mengembangkan teknologi untuk produksi LNG.

Kedutaan Besar AS dan Jepang di Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia untuk melakukan lokakarya trilateral pertama tentang Liquefied Natural Gas (LNG) untuk mempromosikan kemitraan energi di Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

Lokakarya trilateral tentang LNG diadakan di Jakarta pada hari Selasa dan dibuka oleh Presiden Direktur Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang Keishi Suzuki bersama dengan Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar AS di Jakarta Heather Variava dan Charg? d` Kantor Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Keichi Ono.

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Melalui lokakarya ini, Amerika Serikat dan Jepang berkomitmen untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan LNG dengan mempromosikan perusahaan-perusahaan AS dan Jepang, sebagai penyedia utama infrastruktur dan keuangan LNG di Indonesia.

Oleh karena itu, lokakarya tersebut membahas beberapa proposal mengenai peluang bisnis LNG di Indonesia, masalah yang dihadapi dan langkah-langkah pendukung yang diperlukan untuk meningkatkan kerja sama antara Jepang dan Amerika Serikat untuk diimplementasikan dalam kerangka bantuan antara pemerintah Jepang dan AS.

Selain itu, lokakarya ini bertujuan untuk memberikan peluang bagi perusahaan Jepang, AS, dan Indonesia untuk bertemu dan memperluas jaringan di antara mereka.

Saat ini, gas telah mengambil peran penting dalam bauran energi Indonesia. Negara ini bertujuan untuk mencapai target aspirasi 22 persen gas dalam bauran energi pada tahun 2025 dan 24 persen pada tahun 2050. Target ini telah ditetapkan dalam kebijakan energi nasional, menurut Kepala Satuan Tugas Khusus dari Kegiatan Bisnis Hulu Minyak dan Gas Bumi. (SKK Migas) Dwi Soetjipto.

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya terbaiknya untuk menyediakan keamanan energi melalui kebijakan energi yang tepat dengan memberikan jaminan empat elemen ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan keberlanjutan di negara ini, catat Soetjipto.

Dia mengatakan bahwa dalam hal gas, Pemerintah Indonesia telah menetapkan peraturan gas saat ini dalam prosedur alokasi, pemanfaatan, dan penetapan harga.

Sejak 1977, Indonesia telah menjadi pemain penting dalam bisnis gas dunia. Pada tahun 90-an, Indonesia adalah eksportir LNG terbesar di dunia, dengan hampir 40 persen ekspor LNG. Faktanya, Indonesia masih berada di antara lima eksportir LNG teratas di tahun 2017, sementara konsumen LNG Indonesia yang terbesar adalah Jepang, Korea, Taiwan, Cina, dan Amerika Serikat.

Asia-Pasifik memiliki 9,4 persen dari cadangan gas dunia di mana Cina memegang 2,9 persen dan Indonesia memegang 1,53 persen dari cadangan gas dunia.

Indonesia Melakukan Lokakarya Trilateral Pertama Tentang LNG